Dimakan atau Dijadikan Bahan Bakar?

 

Yovita Siswati

Disarikan dari National Geographic dan berbagai sumber lain

 

Atmo memandangi tumpukan keemasan di hadapannya dengan wajah berseri-seri.

“Panen jagung dari ladang ayahku tahun ini sukses besar, Paklik,” kata Atmo pada pamannya yang baru saja datang dari kota. Paklik adalah sebutan untuk paman dalam bahasa Jawa.

“Sebentar lagi, aku bisa makan jagung rebus dan jagung bakar sepuasnya,” seringai Atmo. “Bukan itu saja, Ibu pasti juga akan membuatkan perkedel jagung, sup jagung dan bubur jagung yang lezat kesukaanku!

“Kalau itu, Paklik juga sudah tahu,” sahut Paklik Tejo. “Tapi tahukah kamu, kalau jagung juga bisa digunakan untuk menjalankan mobil?”

Mata Atmo membola. Ia baru ingat, pamannya itu, kan, seorang peneliti yang bekerja di sebuah universitas di kota. Paklik tahu apa saja. Tanpa diminta, Paklik Tejo pun bercerita.

Kata Paklik, selain bahan bakar fosil yang didapat dari minyak bumi dan batu bara, bahan bakar juga dapat dihasilkan dari fermentasi tanaman pangan. Ada dua jenis bahan bakar bakar dari tanaman yaitu biodiesel yang berbahan mentah minyak kedelai, kelapa dan biji-bijan dan biofuel yang dihasilkan oleh etanol dari pati jagung, gandum, singkong atau gula tebu.

Biofuel dianggap ramah lingkungan karena saat tanaman yang menjadi bahan baku biofuel tumbuh, tanaman itu menyerap karbondioksida dari udara dan merubahnya menjadi oksigen. Selain itu bioethanol juga dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar. Produksi bioethanol di dunia semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama di Amerika Serikat dan Brasil. Bahkan 99% dari biofuel yang dipakai di seluruh dunia pada tahun 2011 terbuat dari tanaman pangan.  Sambil bercerita, Paklik Tejo menunjukkan gambar dari internet melalui telepon genggamnya yang menggambarkan peningkatan pemanfaatan tanaman pangan sebagai biofuel di dunia.

 

“Kalau begitu, kenapa biofuel tidak digunakan saja untuk semua kendaraan bermotor?” tanya Atmo.

“Karena pemakaian bahan pangan secara besar-besaran akan berdampak pada ekonomi dunia,” terang Paklik Tejo yang disambut kerutan kening Atmo.

Paklik Tejo pun menjelaskan kembali. Penggunaan bahan pangan termasuk jagung menyebabkan meningkatnya permintaan bahan pangan tersebut yang ujungnya akan menimbulkan kenaikan harga. Hal ini dapat membuat  negara-negara yang masih tergantung pada impor bahan pangan mengalami kesulitan. Contohnya, pemanfaatan etanol secara masif telah menyebabkan melonjaknya harga jagung di Amerika Serikat, salah satu penghasil jagung terbesar di dunia. Meksiko, sebagai negara pengimpor jagung, terpaksa membeli jagung dengan harga tinggi dari Amerika Serikat. Meksiko tak punya pilihan karena makanan utama penduduknya adalah jagung, yang biasa diolah menjadi tortilla, semacam keripik jagung khas Meksiko. Lonjakan harta tortilla di Meksiko bahkan mengalahkan kenaikan upah minimum. Kondisi ini menimbulkan demostrasi besar-besaran oleh penduduk Meksiko sehingga pemerintah Meksiko harus turun tangan untuk mengendalikan harga jagung.

“Wah, rumit juga ya,” guman Atmo. “Kalau begitu, mana yang lebih baik Paklik? Dikonsumi sebagai makanan atau digunakan sebagai bahan bakar?” Atmo penasaran.

“Pertanyaan yang lebih penting, sore ini kita akan makan jagung rebus atau jagung bakar?” Paklik Tejo balas bertanya dengan tatapan mata jenaka.

“Makan jenang jagung saja!” tukas Ibu yang tiba-tiba muncul di belakang Atmo dan Paklik Tejo. “Ayo lekas, kalau tidak, jenang itu pasti akan dihabiskan adikmu.”

Dengan senyum lebar, Atmo menyerbu masuk ke dalam rumah. Walaupun cerita Paklik Tejo sangat seru, jenang jagung lezat buatan Ibu tak boleh terlewatkan!

 

Sumber :

       The Hidden Cost of Turning Food into Fuel, National Geographic Youtube Channel https://www.youtube.com/watch?v=CQBw9JsBnI4

       Apa Itu Biofuel? Inilah Pengertian Biofuel dan Jenis-jenisnya; Rahmalia, Iveta, Bobo.grid.id edisi 19 February 2019.

       Pembuatan Etanol dari Pati Jagung; Lestari, Pratiwi Putri, Jurnal Penelitian Jurusan Teknik Kimia – Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Medan Volume 31 Nomor 2 Juli – Desember 2018

 

Sumber gambar :

       Ketika Makanan Jadi Bahan Bakar; Majalah National Geographic Indonesia; Edisi October 2019


Comments